Thursday, February 6, 2020

Perkembangan Supply Chain

assembly line cikal bakal integrasi rantai pasokSejak pemenuhan kebutuhan tidak lagi dilakukan diri sendiri manusia, sejatinya supply chain sudah muncul. Tentu belum terkelola dengan baik, yakni supply chain paing optimum. Masing-masing pihak, penghasil bahan baku, supplier bahan baku, produsen (pabrik manufaktur), distributor, dan retailer masing-masing berdiri sendiri, otonom, dan memandang pihak lain baik proses sebelumnya (predesesor) maupun proses sesudahnya (suksesor)
dipandang sebagai ‘pihak lain’ atau partner tukar menukar.
Mengintegrasikan seluruh proses dari titik origin sampai titik konsumsi, pernah menjadi trend strategi persaingan. Dilakukan oleh korporasi besar. Jadilah perusahaan minyak adalah pemilik sumur pengeboran, pengelola kilang, pelaku distribusi sekaligus penjual akhir. Dengan memandang setiap proses sebagai profit center, maka semua proses tersebut dikuasai untuk menghimpun laba sebesar-besarnya sekaligus sebagai taktik jaminan keberlangsungan usaha. Masa gemilang kapitalisme.

Perkembangan selanjutnya best pratice memberi bukti bahwa spesialisasi aktivitas menghasilkan efektivitas dan efisiensi yang lebih baik dibanding generalisasi. Dimulai dengan pembentukan divisi otonom untuk masing-masing proses, kemudian berkembang menjadi korporasi tersendiri di bawah holding, sampai akhirnya sama sekali terpisah. Masing-masing berdiri sendiri dari kepemilikan sampai sistem operasi. Dimulailah era outsourcing.
Terbukti juga bahwa kontrak-kontrak yang ketat dan fair menghasilkan efisiensi dan efektivitas sekaligus keterjaminan keberlangsungan proses. Efisiensi dan efektivitas dihasilkan dari spesialisasi yang fokus pada aktivitas tertentu yang prosesnya lebih singkat, lebih sederhana dibanding intergrasi hulu-hilir yang terkadang aktivitasnya sangat jauh berbeda.
Contoh, operasional SPBU sangatlah berbeda dengan kegiatan pengeboran. Jika kedua aktivitas tersebut dilakukan satu organisasi akan membentuk organisasi yang gemuk dan rumit. Semendtara jika dilakukan oleh unit-unit otonom, masing-masing akan lebih mampu mengembangkan keterampilan untuk meningkatkan efetivitas dan efisiensi proses kerja.

Sejak awal abad ke 20, pabrik-pabrik besar telah menerapkan ‘assembly line’ sebuah unit produksi manufaktur yang menggunakan ban berjalan. Tidak ada seseorang atau sekelompok orang yang melakukan semua kegiatna manufaktur di assembly line. Setiap orang atau kelompok orang fokus pada pekerjaan tertentu dalam berproduksi. Produk yang dimulai dari bagian terbesar yang tidak terpisahkan, bergerak dari satu stasion ke stasion lain melalui ban berjalan. Setiap station melakukan pekerjaan yang sama yakni memasang suku cadang tertentu ke produk yang berjalan. Dari titik awal sampai selesai dapat melibatkan banyak station yang melakukan pekerjaan yang sama sepanjang waktu produksi.
Awalnya bagian-bagian yang dirakit di assembly line dibuat oleh pabrik yang sama. Pada perkembangan selanjutnya bagian (atau suku cadang) tersebut dapat dibuat oleh pihak lain. Dimulailah era supply chain yang kita kenal sekarang ini, dengan pengelolaan yang lebih canggih dari sejak perencanaan sampai pengawasan akhir, inilah manajemen rantai pasok atau Supply Chain Management.
Istilah supply chain terbit pertama kali di koran The Independent pada tahun 1905. Sedangkan istilah “Supply Chain Management” dicetuskan oleh Keith Oliver pada terbitan Financial Times tahun  Pengintergrasian SCM ditopang oleh EDI (Electronic Data Inerchange) sekitar tahun 1960 dan terus berkembang sampai 1990 dan dengan diperkenalkan sistem ERP (Enterprise Resource Planning).

Evolusi Supply Chain Management
Perkembangan supply chain management dari sejak dikenali sampai saat ini biasanya digambarkan dalam 4 tahap:
  1. Otonomitas dan independensi antar bagian produksi. Masing-masing bagian menjalankan program-program sendiri yang terlepas satu sama lain (in-complete isolation). misalnya bagian produksi hanya beraktivitas membuat barang sesuai standar yang telah ditetapkan. Tidak ada kaitan dengan pengelolaan bahan baku dan manajemen pergudangan barang jadi.
  2. Integrasi dua aktivitas berurutan, contoh bagiann produksi dengan gudang bahan baku dan gudang persediaan barang jadi.
  3. Integrasi total seluruh aktivitas produksi dan aktivitas pendukung.
  4. Integrasi ke upstreams yaitu suppliers dan downsterams sampai ke pelanggan. 

Sejatinya pengintegrasian tersebut mirip dengan penguasaan alat dan proses produksi dari hulu ke hilir, hanya saja dalam SCM modern integrasi dilakukan oleh para pihak dari hulu ke hilir dengan tetap otonom dan independen. Keterikatan antar pihak biasanya dilakukan dengan kontrak yang disepakati kedua belah pihak.